>
Eti Kumalasari blog!







INTERAKSI BAHASA DAN VERBAL DALAM KEHIDUPAN SEHARI - HARI
Sunday, June 16, 2013 | 0 comment(s)

KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Tuhan YME yang telah memberikan Rahmat serta hIdayahNya sehingga penulis dapat menyusun Makalah Komunikasi dengan judul Interaksi Bahasa dan Verbal.
Disusunnya makalah ini guna menyelesaika tugas kelompok mata kuliah Komunikasi. Terselesainya penulisan makalah ini adalah berkat dukungan dari semua pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1.      Bapak Hengky Pramusinto S.Pd., M.Pd selaku Dosen pengampu mata kuliah komunikasi.
2.      Orang tua yang selalu memberikan dukungan dan do’anya.
3.      Segenap pihak yang telah ikut andil dalam proses penyelesaian makalah ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.  Semoga tulisan ini dapat bermanfaat baik bagi penulis dan bagi para pembaca pada umumnya.

Semarang, 21 Maret 2013

Penulis


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Mengapa manusia berbahasa dan mengapa terdapat banyak bahasa di dunia? Kemampuan berbahsa manusia, yang membedakannya dengan hewan lain yang lebih rendah, merupakan akibat dari pembesaran dan perkembangan otak manusia. Salah satu pandangan mengatakan bahwa orang-orang yang hidup di berbagai bagian dunia merasa perlu merancang solusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Dalam hal ini, mereka menciptakan berbagi cara hidup, dan bersama hal itu, bahasa-bahasa berlainan untuk memenuhi kebutuhan mereka.  Kita sering tidak menyadari pentingnya bahasa, karena kita sepanjang hidup menggunakannya. Kita baru sadar bahasa itu penting ketika kita menemui jalan buntu dalam mengggunakan bahasa.
Interaksi verbal merupakan tindakan berbahasa yang diucap tutur kata ( lisan )
ataupun pengucapan bersuara yang mempunyai makna dan tafsiran lebih jelas dan ketara. Ia mudah dipahami berdasarkan lambang atau simbol bersuara yang boleh ditafsir. Interaksi verbal bertujuan untuk melahirkan pemikiran, perasaan dan tindak balas terhadap sesuatu isu atau persoalan. Interaksi verbal berkaitan dengan sikap, tanggapan, status serta niat sesuatu pengucapan itu dilahirkan. Bagi masyarakat, pernyataan yang lahir dalam konteks bersuara ini sangat erat hubungannya dengan nilai dan budi masyarakat. Ini adalah kerana masyarakat mempunyai banyak tatacara yang terkandung dengan makna yang tersurat dan tersirat yang dapat dijadikan ukuran ketinggian nilai masyarakatnya.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa itu interaksi, bahasa, dan verbal?
2.      Ciri-ciri dan fungsi bahasa?
3.      Masalah dalam keterbatasan bahasa?
4.      Hambatan-hambatan dalam interaksi?
C.    TUJUAN
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai:
1.      Untuk mengetahui pengertian interaksi, bahasa, dan verbal.
2.      Untuk mengetahui ciri-ciri dan fungsi bahasa.
3.      Untuk mengetahui masalah dalam keterbatasa bahasa.
4.      Untuk mengetahui hambata-hambatan dalam interaksi.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN INTERAKSI, BAHASA, DAN VERBAL
Interaksi adalah suatu hubungan timbal balik antar orang satu dengan orang lainnya.  Hal penting dalam interaksi ini adalah adanya kontak dan komunikasi diantara orang-orang itu.
Bahasa adalah system lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakaiannya. Bahasa yang baik berkembang berdasarkan suatu system yaitu  seperangkat aturan yang dipatuhi oleh pemakaiannya. Bahasa sendiri berfungsi sebagai sarana komunikasi serta sebagai sarana interaksi dan adaptasi
Komunikasi verbal adalah bentuk komunikasi yang disampaikan komunikator kepada komunikan dengan cara tertulis (written) atau lisan (oral).
                       
B.     CIRI-CIRI DAN FUNGSI BAHASA
Kita perlu memahami beberapa ciri bahasa sebagaimana dikemukakan, terutama oleh Adler dan Rodman (1982), berikut ini:
1.      Bahasa bersifat simbolik
Kata-kata adalah lambang yang mewakili hal-hal seperti gagasan-gagasan, peristiwa-peristiwa, benda-benda, dan sebagainya. Kata-kata nitu bukan hal-hal itu sendiri, melainkan hanya mewakilinya saja.
Bahasa terdiri dari kumpulan lambang-lambang, yang memiliki syarat-syarat tertentu: pertama, suatu bahasa harus berisi unsur-unsur tertentu, seperti huruf berikut tanda titik (.), koma (,), dan sebagainya; dan kedua adanya peraturan yang menentukan cara dengan mana lambang-lambang dapat digunakan.
Bahasa berisi dua tipe peraturan. Pertama, sintatik mengatur cara-cara dalam mana lambang-lambang dapat disusun. Dan kedua, aturan semantik yang juga mengatur penggunaan bahasa. Beda antara keduanya ialah apabila aturan sintatik berkenaan dengan struktur, maka semantik mengatur arti/ makna. Aturan semantik mencerminkan cara dalam mana pembicara dari suatu bahasa memberikan respons terhadap suatu lambang tertentu. Aturan-aturan semantiklah yang memungkinkan kita menyetujui arti atau fungsi dari suatu lambang tertentu. Tanpa aturan semantik komunikasi akan mustahil, karena kita masing-masing akan menggunakan lambang-lambang dalam cara-cara khas kita yang tidak saling dimengerti satu sama lain.
2.      Makna ada pada orang, tidak pada kata-kata
Kata-kata dapat ditafsirkan dalam banyak cara yang berbeda . inilah basis dari dari kesalah-pengertian. Tentang ini kita masih ingat apa yang dikemukakan Berlo: komunikasi tidak terdiri dari pemindahan makna/ arti tidak dapat dialihkan. Hanya pesan yang dapat dipindahkan, dan makna/ arti tidak berada dalam pesan, tetapi berada pada mereka yang menggunakan pesan.
3.      Bahasa membentuk persepsi kita
Walaupun makna lebih berada pada orang-orang daripada dalam kata-kata, kita tidak boleh berpikir bahwa  label atau tanda-tanda berupa kata-kata atau nama, tidak penting. Dalam banyak kasus label yang kita gunakan membentuk cara kita melihat sesuatu peristiwa. Iklan merupakan contoh terbaik tentang bagaimana sikap dapat diciptakan lewat penggunaan kata-kata. Contoh lain lagi ialah pada pemberian label baru berupa nama menggantikan nama-nama lama, akan membentuk perasaan baru yang lebih tinggi terhadap diri sendiri si pemilik nama. Misalnya seorang pegawai perusahaan yang diberi nama jabatan baru sebagai “asisten manager” akan lebih merasa bangga terhadap pekerjaannya. Walaupun dalam kenyataan tidak terdapat perubahan apapun.
Pengaruh dari pemberian label ini bahkan ssampai pada nama-nama pribadi. Penelitian menunjukan bahwa nama-nama ini lebih daripada sarana identifikasi yang sederhana. Dalam kenyataanaya nama-nama itu membentuk cara orang-orang lain berfikir terhadap para pemilik nama, cara pemilik nama memandang mereka sendiri dan perilaku mereka.
Para Antropolog mengetahui bahwa kebudayaan darimana kita hidup mempengaruhi persepsi kita tentang kenyataan. Beberapa ilmuan sosial percaya bahwa perspektif kultural ini setidaknya sebagian dibentuk oleh bahasa yang digunakan warga dari kebudayaan itu.
4.      Bahasa mencerminkan sikap kita
Bahasa sering mencerminkn sikap pembicara, disamping membentuk persepsi. Pencerminan ini misalnya dapat terungkap dari : pernyataan suka atau tidak suka secara tidak langsung ; penempatan kata-kata dalam kalimat, disebutkan didepan atau dibelakang misalnya apabila seseorang ditanya siapa yang harus diundang kepesta , maka nama-nama yang disebutkan terdahulu mencerminkan orang-orang yang paling disukai ; atau lamanya waktu yang digunakan untuk membicarakan sesuatu atau sesorang.
Setidaknya bahasa harus memenuhi tiga fungsi yaitu : untuk mengenal dunia disekitar kita; berhubungan dengan orang lain ; dan untuk menciptakan koherensi dalam kehidupan kita. Ketiga fungsi ini dapat dijabarkan fungsi pertama melalui bahasa anda mempelajari apa saja yang  menarik minat anda, mulai dari sejarah suatu bangsa yang hidup pada masa lalu yang tidak pernah anda temui, seperti bangsa Mesir Kuno atau bangsa Yunani. Fungsi kedua dari bahasa yakni sebagai sarana untuk berhubungan dengan orang lain, sebenarnya banyak berkaitan dengan fungsi komunikasi khususnya fungsi sosial dan fungsi instrumental. Bahasa memungkinkan kita bergaul dengan orang lain untuk kesenangan kita dan mempengaruhi mereka untuk mencapai tujuan kita. Melalui bahasa kita dapat mengendalikan lingkungan kita, termasuk orang-orang disekitar kita. Sedangkan fungsi ketiga memungkinkan untuk hidup lebih teratur saling memahami mengenai diri kita, kepercayaan-kepercayaan kita, dan tujuan-tujuan kita.

C.     KETERBATASAN BAHASA
Keterbasan jumlah kata yang tersedia untuk mewakili objek
Kata-kata adalah kategori-kategori untuk merujuk pada objek tertentu: orang, benda, peristiwa, sifat, perasaan, dan sebagainya.  Suatu kata hanya mewakili realitas, tetapi bukan realitas itu sendiri. Dengan demikian, kata-kata pada dasarnya bersifat tarsial, tidak melukiskan sesuatu secara eksak.
Kata-kata sifat dalam bahasa cenderung dikotomis (oposisi biner), misalnya baik buruk, kaya-miskin, pintar-bodoh, bahagia-sengsara, tebal-tipis, dan sebagainya. Realitas yang sebenarnya tidak bersifat hitam putih, tetapi terdiri dari jutaan corak abu-abu dan warrna-warna lainnya.

D.    HAMBATAN-HAMBATAN DALAM INTERAKSI
Dalam interaksi terkadang menjumpai hambatan pada sebuah titik dalam proses dari pengiriman ke penerimaan.  Adapun hambatannya antara lain:
1.      Polarisasi adalah kecenderungan untuk melihat dunia dalam bentuk lawan kata dan menguraikannya dalam bentuk ekstrim.
2.      Orientasi Intensional, mengacu pada kecenderungan kita untuk melihat manusia, objek dan kejadian seseuai dengan cirri melekat pada mereka.
3.      Kekacauan karena menyimpulkan fakta secara keliru, pernyataan yang dibuat bukan berdasarkan hanya pada apa yang dilihat, melainkan juga pada apa yang dismpulakan.
4.      Implikasi pragmatis, kesimpulan yang barangkali, tetapi belum benar.
5.      Potong Kompas, pola kesalahan evaluasi dimana orang gagal mengkomunikasikan makna yang mereka maksudkan.
6.      Indiskriminasi terjadi bila kita memusatkan perhatian pada kelompok orang, benda, atau kejadian dan tidak mampu melihat bahwa masing-masing bersifat unik atau khas dan perlu diamati secara individual
















Labels:





Older Post . Newer Post